Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), Menyebut Smelter BMS Sebagai Tonggak Keberhasilan Lingkungan di Indonesia
Jakarta, 20 September 2023 - Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden ke-10 dan 12 Indonesia, mengungkapkan kebanggaannya terhadap smelter atau fasilitas pemurnian mineral yang dibangun oleh PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS). Menurut JK, smelter ini merupakan yang paling ramah lingkungan di seluruh Indonesia.
Fasilitas smelter yang terletak di Desa Karang-karangan dan Desa Bukit Harapan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), dibangun dengan menggunakan sumber energi baru terbarukan (EBT) berupa tenaga air (hydro power). Pembangkit listrik yang menyuplai keperluan smelter BMS berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Malea Tana Toraja yang juga merupakan milik dari Kalla Group.
"Di sinilah yang paling lengkap di seluruh Indonesia. Pembangkitnya green energy, prosesnya juga green energy. Ini cocok untuk kemajuan Indonesia. Orang tidak akan melihat cerobong asap. Jadi ini satu-satunya di Indonesia yang paling green energy. Coba cari di Indonesia, di mana ada yang paling ramah lingkungan?" kata Jusuf Kalla saat meninjau proyek pembangunan smelter BMS di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, pada Jumat (15/9/2023).
Selain menjadi proyek yang ramah lingkungan, JK juga membanggakan bahwa proses pembangunan smelter ini sepenuhnya mengandalkan tenaga kerja dalam negeri. Sebanyak 70% tenaga kerja lokal berasal dari Luwu, sedangkan 30% sisanya berasal dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Menurut JK, hal ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia mampu membangun smelter yang ramah lingkungan tanpa harus mengandalkan tenaga kerja asing (TKA), seperti yang terjadi di Morowali, Sulawesi Tengah.
"Insinyur yang ada di sini semuanya anak-anak daerah, berbeda dengan Morowali di mana setelah pabrik selesai baru ada kesempatan kerja untuk warga lokal. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu," tegasnya.
Terkait pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik, JK menjelaskan bahwa pembangunan smelter BMS tidak melibatkan penggusuran terhadap penduduk setempat. Perusahaan telah membeli tanah dari masyarakat yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik sejak tahun 2016.
Namun, JK mengakui bahwa masih ada beberapa demonstrasi dari kelompok Aliansi Masyarakat Adat (Aman) terkait proyek ini.
"Ada demo seperti dari Aman, itu lahan sudah dibeli pada tahun 2016, atau 7 tahun yang lalu, semua itu dibeli dari pemiliknya, dan yang demo itu ditanya di mana surat-suratnya, tetapi tidak ada. Kami berbeda dengan daerah lain di mana rakyatnya digusur, kami membeli lahan," jelasnya.
Smelter BMS direncanakan akan selesai dan mulai beroperasi untuk memproduksi feronikel pada bulan November 2023 dengan kapasitas produksi sebesar 33.000 ton nikel per tahun. Proyek ini diperkirakan akan rampung pada bulan Juli 2024 dengan kapasitas produksi sekitar 31.400 ton nikel per tahun, dengan total investasi mencapai Rp 3,2 triliun. Smelter ini diharapkan akan menjadi contoh bagi proyek-proyek berkelanjutan dan ramah lingkungan di masa depan di Indonesia